Ubuntu : Gnome Shell VS Pantheon Shell

Gnome Shell Desktop Environment

Gnome Shell mempunyai tampilan yang menarik, simple tapi powerful. Jika dibandingkan dengan Desktop Environment bawaannya Ubuntu (Unity) Gnome Shell lebih ringan dan nyaman dipakai. Aplikasi pendukung untuk optimalisasi juga cukup menarik, diantaranya ada Gnome Shell Extension dan Tweak Tool. Untuk Themes pun ada banyak pilihan yang bisa digunakan, seperti Windows theme dan icon theme. selain itu terminal-nya pun lebih nyaman daripada Unity. Kita bisa memberikan background sesuka hati didalam terminal. Keren
Untuk Tweak tools saya menggunakan dconf-editor. Disana saya bisa meng-customize tampilan menu, ukuran menu dan font standard yang digunakan, dan bahkan saya bisa mengubah ukuran icon application pada menu, karena dirasa terlalu besar dan kurang nyaman dilihat. Tapi untuk melakukannya anda harus menggunakan CLI, di postingan selanjutnya akan saya bahas cara meng-customize Gnome Shell.

Gnome Shell Desktop Environment
Gnome Shell Desktop Enviroment
Ketika saya sedang asyik-asyiknya menggunakan Gnome Shell sebagai Desktop environment saya, saya mengalami kejadian aneh seperti hang, tapi anehnya cursor bisa berfungsi. Entahlah apa namanya ini tapi hal ini semakin sering terjadi ketika saya sedang bekerja. Saya pernah menunggu kejadian ini dan berharap akan kembali normal, tapi setelah 20 menit apa yang saya harpkan tidak kunjung terjadi. Situasi ini memaksa saya melakukan hal yang kejam T_T
Dengan terpaksa saya harus melakukan hardboot Laptop saya, karena Ctrl + Alt + Del pun tidak bekerja. Dari sini saya mulai kecewa pada Gnome Shell. Saat itu, gara-gara kejadian ini banyak pekerjaan saya yang belum tersimpan menjadi hilang gara-gara hardboot.

Pantheon Shell Desktop Environment

Kejadian kurang menyenangkan bersama Gnome Shell membuat saya kecewa. Setelah mencari-cari referensi akhirnya saya memutuskan untuk pindah dari Gnome Shell ke Pantheon Shell – Elementary. Dan ternyata saya menemukan sesuatu yang WOOW disini, tampilannya lebih simple, cukup mirip dengan MacOS Lion apalagi ketika saya memakai cursor MacOS Lion juga. Tapi itu belum seberapa, saya merasakan performa Laptop saya pun seperti bertambah. YA! Pantheon Shell lebih ringan dari Gnome, percaya atau tidak untuk membuktikannya silahkan anda coba sendiri. Pada desktop bagian bawah ada Dock bar mirip dengan MacOS, kita bisa mengatur apa saja yang harus berada di Dock Bar tersebut. Selain itu, pada Pantheon Shell juga kita bisa mengatur agar ketika mouse di mouse over disatu sudut maka akan melakukan suatu aksi tertentu seperti minimize, close, open start menu, switch application, atau switch desktop. Keren bukan! 😀

Pantheon Shell Desktop Environment (Elementary)

Pada setiap environment biasanya akan membawa beberapa aplikasi bawaaan seperti misalnya browser. Memang tidak ada yang sempurna 100%, Midori…browser bawaan Pantheon Shell menurut saya tidak recommended, berat! Saya lebih suka menggunakan Google Chrome disini.

Untuk Tweak Tools, kita bisa menggunakan “Ubuntu Tweak Tool”. Anda bisa dengan mudah mendapatkannya di Software Center. Dengan tool ini saya juga bisa dengan mudah meng-customize tampilan, login screen, theme, dan cursor theme. Hal yang saya suka pada Tweak Tool ini adalah Janitor. Sebuah tool semacam Tune Up Utilities pada Windows. Janitor bisa digunakan untuk membersihkan cache pada semua paket dan aplikasi, ini membuat Ubuntu saya menjadi segar seperti baru diinstall ulang. Nyaman sekali!

Kesimpulan :
Sebenarnya semua tergantung pada user nya masing-masing. Tapi menurut saya Pantheon Shell jauh lebih baik dibandingkan dengan Gnome Shell. Ada banyak hal yang tidak saya temukan pada Gnome Shell dan saya menemukannya di Pantheon Shell. Tidak menghambat Berjalan maksimal tapi tidak menghambat performa platform.Semakin sering saya mengupdate Pantheon Shell saya juga merasakan kenyamanannya bertambah. Bagaimana dengan anda, itu semua tergantung pada anda sendiri :)

Balas komentar

Anda harus login terlebih dahulu untuk menambah komentar.