Reed Hastings, Pendiri Netflix yang Mendapuk Karyawan Bak Raja

142545_aNama Netflix semakin dikenal orang. Mereka adalah pionir dalam bisnis streaming konten video berbayar serta rental DVD dan Bluray online. Salah satu penggagasnya adalah sosok bernama Reed Hastings yang juga menjabat sebagai CEO Netflix.

Hastings yang kini berusia 55 tahun, lahir di Boston, Massachussets. Kekayaannya saat ini diestimasi USD 1,72 miliar berkat kesuksesan Netflix. Sukses yang mungkin tak lepas dari cara Hastings memberlakukan karyawan Netflix dengan baik.

Ya, praktek Netflix dalam memperlakukan karyawannya banyak dipuji di Amerika Serikat. Gaji pegawai Netflix dikenal tinggi untuk menarik bakat terbaik. “Kami tidak takut untuk membayar tinggi,” kata Hastings suatu ketika.

Kemudian, karyawan bisa memilih apakah kompensasi dibayar lebih banyak saham atau lebih banyak uang. Waktu cuti juga fleksibel, tidak dibatasi dan bisa diatur oleh karyawan sendiri. Bahkan katanya karyawan bisa liburan selama mereka mau, asalkan pekerjaannya beres. Kalau karyawan dikarunai bayi, mereka bisa cuti sampai setahun dan tetap dibayar penuh.

Budaya kerja itu gagasan Hastings itu disebut sebagai Freedom & Responsibility. Dan meski mendapat banyak fasilitas, karyawan Netflix tidak lantas terlena. Soalnya yang kerjanya biasa-biasa saja bisa dikeluarkan sewaktu-waktu. Namun pesangonnya tinggi.

“Di kebanyakan perusahaan, karyawan dengan performa biasa akan mendapat kenaikan gaji biasa juga. Di Netflix, mereka akan mendapatkan pesangon yang tinggi,” katanya. Sistem ini memungkinkan kantor menyingkirkan karyawan tak berprestasi tanpa merasa berat hati.

Lahir di Keluarga Berada

Hastings sendiri dibesarkan di keluarga berada. Ayahnya pengacara terkenal. Ia tertarik pada bidang studi matematika dan masuk jurusan itu di Bowdoin College di Maine. Di sana, ia memenangkan kompetisi matematika bergengsi.

Lulus kuliah, Hastings sempat masuk tentara tapi hanya bertahan dua tahun. Tahun 1983 setelah masa itu, dia berpetualang di negara Swaziland, Afrika, bekerja sebagai relawan pengajar matematika. “Itu pengalaman yang sangat memuaskan,” katanya.

Dua tahun di Swaziland, Hastings balik ke Amerika Serikat dan menempuh kuliah S2 di Stanford University. Ia lulus tahun 1988 dengan gelar Ilmu Komputer. Setelahnya, dia bekerja di Adaptive Technology sebelum memutuskan mendirikan perusahaan sendiri yang dinamakan Pure Software.

Perusahaan software itu ternyata sukses yang pada awalnya malah membuat Hastings kewalahan. Dia merasa tak pantas jadi CEO. “Aku coba memecat diriku sendiri dua kali. Aku kehilangan kepercayaan diri. Aku sebenarnya kan teknisi,” sebutnya. Tapi Hastings tetap diminta menjadi CEO dan terus belajar bisnis.

Pada tahun 1996, Pure Software merger dengan Atria Software dan namanya menjadi Pure Atria. Ketika perusahaan itu dicaplok Rational Software pada tahun 1997, Hastings memutuskan pergi dan mendirikan perusahaan lain. Bersama Marc Randolph temannya. Hastings mendirikan Netflix di tahun 1998.

Begitulah, Netflix menapak pada kesuksesan dan kini menjadi raksasa media streaming online yang sangat diperhitungkan. Oktober 2015, Netflix melaporkan jumlah pelanggan sudah tembus 68,17 juta di seluruh dunia, 43 juta di antaranya di Amerika Serikat. Dan kini Netflix sudah tersedia di 190 negara, tentu pelanggannya akan melonjak.

Hastings menikah, punya dua anak dan tinggal di San Francisco. Tahun 2012, ia menandatangani insiatif Giving Pledge yang digagas Waren Buffet dan Bill Gates, di mana kaum kaya berkomitmen menyumbangkan sebagian besar kekayaannya untuk kemanusiaan. Ia ingin terus bekerja keras membesarkan Netflix.

“Aku bahagia di tempatku sekarang. Sudah bertahun tahun aku di Netflix dan aku merasa ini masih permulaan. Aku tidak butuh dan tidak ingin diakuisisi. Kami menghasilkan uang. Menjadi seorang entrepreneur adalah soal kesabaran dan kegigihan, bukan uang cepat, dan semua hal hebat itu memang dilakukan dengan sulit dan membutukan waktu lama,” tuturnya.

Balas komentar

Anda harus login terlebih dahulu untuk menambah komentar.