Perusahaan Ini Berani Sesumbar Kalahkan Google

0920434edited111780x390Amazon Web Services (AWS) kini memiliki lebih dari 1 juta pelanggan di seluruh dunia. Angka itu dipamerkan Senior Vice President AWS Andy Jassy pada konferensi “Re:Invent 2015”, Rabu 7/10/2015), Las Vegas, AS.

Pertumbuhan bisnis AWS sendiri, terpisah dari Amazon, meningkat 81 persen jika dibandingkan tahun lalu. Angka itu mengalahkan beberapa kompetitor utamanya.

Antara lain Google yang pertumbuhan bisnis enterprise-nya hanya 11 persen, serta Microsoft yang pertumbuhannya di bawah 2 persen.

“Kami adalah perusahaan IT untuk enterprise dengan pertumbuhan paling signifikan. Perusahaan lain rata-rata tumbuh dengan angka sangat kecil pada tahun ini,” kata Jassy.

Selama ini, Amazon dan Google memang bersaing sengit. Walau keduanya bermula sebagai perusahaan teknologi dengan pasar berbeda, lambat laun kedua raksasa tersebut mulai menyasar konsumen yang sama.

Amazon memulai layanannya sebagai marketplace, sedangkan Google sebagai mesin pencari. Kini, Google pun berharap bisa jadi marketplace raksasa dengan meluncurkan tombol “buy” pada Search. Di sisi lain, keduanya sama-sama punya layanan cloud dan sama-sama mengembangkan bisnis iklan digital.

Pertumbuhan bisnis cloud Amazon yang telak mengalahkan Google, menurut Jassy, tak lepas dari semakin maraknya pemanfaatan cloud oleh berbagai sektor industri. Dari mulai skala kecil, menengah, hingga yang besar.

Dibandingkan Google, AWS memang lebih lengkap mengakomodir fitur layanan cloud. Karenanya, kategori konsumennya pun beragam. Mulai dari perusahaan minyak dan gas, kesehatan, teknologi, media, startup, lembaga pemerintah hingga lembaga non-profit.

Tahun ini, pendapatan AWS dilaporkan mencapai 7,3 miliar dollar AS atau setara Rp 100 triliun. Tahun lalu, pendapatan anak usaha Amazon ini “hanya” mencapai 4 miliar dollar AS atau triliun.

Pun begitu, perlu dicatat bahwa angka tersebut bukanlah profit. AWS belum mengungkapkan keuntungan bersih yang diraup dari pendapatan tersebut. Dengan agresifnya AWS menambah kategori layanan cloud-nya tiap tahun, kebutuhan dana infrastruktur yang dibutuhkan tentu tak sedikit pula.

Balas komentar

Anda harus login terlebih dahulu untuk menambah komentar.